Created By: Nadif el-Falah
Di sore hari yang terasa teduh, tibalah aku di pesantren baruku bersama dua sahabatku. Dari daerah nan jauh kami merantau demi mencari ilmu di sebuah tempat yang berada di tengah-tengah keramaian kota Metropolitan. Di kelilingi pepohonan rimbun yang indah khas Jakarta aku memulai hidup baruku. Di temani salah seorang ustadz, Ust.Dani namanya, aku bersama dua sahabatku diperlihatkan tempat tidur dan tempat menyimpan baju-baju kami. Beliau adalah ustadz yang pertama kali kukenal.
“Ini tempat tidurnya dan ini lemarinya untuk menyimpan baju.” Dengan lihai tangannya terbang-terbang menjelaskan kepadaku dan dua sahabatku.
“Oh iya, kalian tinggal bersama sembilan orang lainnya. Mereka masih dalam perjalanan. Mungkin besok pagi mereka baru bisa bergabung dengan kalian.” Ujarnya dengan nada akrab, sambil berjalan meninggalkanku dan dua sahabatku.
”Ah, alhamdulillah. Cita-citaku mencari ilmu di Jakarta akhirnya menjadi kenyataan.” Bisik hatiku senang.
Aku dan dua sahabatku mulai menata baju di lemari plastik bertingkat empat yang berwarna hitam. Selesai menata baju aku rebahkan badanku di atas kasur spring bed yang di balut dengan sprei warna merah bergambarkan bendera AC Milan. Mataku sayup mulai meredup. Pikiranku jauh melayang entah kemana. Rasa capek membuatku tidur terlelap. Aku terbangun oleh pekikan TOA masjid di pesantrenku. Serentak aku dan sahabatku langsung mengambil air wudhu, lalu mengganti baju dengan koko kesayanganku warna abu-abu berhiaskan motif khas Tasikmalaya yang di berikan oleh ibuku saat aku berangkat merantau ke Jakarta.
“Ah… Jadi terbayang wajah ibuku saat memberikan baju ini kepadaku. Rasanya ibuku benar-benar ada di depanku.”
“Hei !”. Sahabatku menepuk bahuku.
“Ayo cepat kemasjid ! Nanti terlambat !” Tegurnya mengingatkanku.
Aku dan sahabatku bergegas menuju masjid.
“Allahu Akbar.” Suara imam memulai rakaat pertamanya dengan takbir.
“Alhamdulillah, aku tidak terlambat.” Sambil berjalan menuju shaf sebelah kanan yang masih kosong.
Suara imam mendayu-dayu indah menghasilkan irama luar biasa menghembus-hembus telingaku. Mataku mulai meneteskan airnya. Semakin terbayang akan hari itu. Begitu dahsyatnya hari itu, yaitu hari kiamat yang pasti akan terjadi entah kapan waktunya. Hanya Dialah yang maha mengetahui sehingga shalatku semakin khusyu’, tak terasa ucapan salam yang keluar dari mulut imam mengakhiri shalatku. Sambil mengusap air mataku aku geserkan sedikit badanku ke belakang lalu aku menengadahkan dua tanganku memohon ampunan kepadaNya. Mataku mulai mengeluarkan airnya lagi yang semakin menjadi-jadi. Tak tahan membayangkan kejadian dalam surat yang dibacakan imam tadi.
“Al Qoriah, Hari kiamat.” Aku semakin menjerit dalam hatiku memohon kepadanya.
“Ya Allah, ampunilah dosa hambaku dan kedua orang tuaku.” Aku angkat kedua tanganku semakin tinggi mendekati wajahku lalu aku mengusap wajahku dengan kedua tanganku.
Selepas shalat maghrib aku dan kedua sahabatku diperkenalkan dengan sahabat-sahabatku yang lebih dulu datang ke pesantren ini.
“Namaku Hasdin.” Sapanya malu.
“Namaku Farhan. Kamu berasal dari mana?” Balasku.
“Aku asli NTT. Kalau kau?” tanyanya dengan logat NTTnya.
“Aku asli tasikmalaya.” Jawabku.
“Hey ! Hey ! Hey !” Teriak Ustadz Dani sambil melambai-lambaikan tangannya memanggil sahabat-sahabatku yang lainnya.
Sepuluh anak adam berjalan menuju asal suara tadi. Mereka semakin dekat dan dekat. Semakin jelas aku melihat mereka. Tepat di depanku dan dua sahabatku mereka memperkenalkan diri mereka masing-masing. Aku dan kedua sahabatku membalas senang. Merekalah sahabat-sahabatku yang pertama kali menginjakkan kakinya di pesantren baruku ini. Mereka berasal dari daerah yang beragam.Mereka adalah adik kelasku karena mereka masih di tingkat SD meskipun mereka berbadan lebih besar. Sedangkan aku beserta sahabat-sahabatku adalah generasi pertama SMP. Pesantrenku membuka pendidikan gratis tingkat SD sampai SMA.
Pekikan TOA masjid pesantrenku membuat perkenalanku dengan sahabat baruku berakhir. Aku dan dua sahabatku menempati shaf pertama untuk bersiap-siap shalat Isya. Sepuluh menit berlalu. Kewajibanku sebagai seorang muslim sudah kulaksanakan. Kegiatan selanjutnya makan malam.
“Alhamdulillah menu makan pertamaku di pesantren lumayan enak.” Gumamku dalam hati.
Selesai makan aku dan kedua sahabatku ngobrol panjang hilir-mudik sampai jauh malam bersama sahabat baruku. Awalnya posisi kami duduk. Lama-lama melorot sampai akhirnya kami tertidur lelap. Pekikan TOA membangunkanku dari tidurku. Seperti biasa aku mengambil air wudhu lalu shalat subuh. Seusai shalat aku merasakan sesuatu yang berbeda. Aku mengucek-ngucek mataku lalu kulihat lagi lebih jeli lagi aku melihatnya. Ternyata kawan sekelas baruku sudah datang. Mereka tersenyum kepadaku. Aku balas dengan senyum manisku.
Matahari mulai memamerkan cahayanya. Awan-awan putih mulai memperlihatkan keindahannya . Tepat pukul delapan masa orientasi kamipun di mulai. Seminggu masa orientasi aku lalui dengan senang. Keesokan harinya aku dan sahabat-sahabatku mulai belajar serius. Di kelas yang baru. Di kehidupanku yang baru aku memiliki sahabat baru. Sahabat yang sangat pernuh pengertian. Namanya Faiz. Di kemudian hari aku merasa kurang motivasi nilai pelajaranku turun. Dia datang kepadaku memberikan motivasi.
“Eh….kamu kenapa kelihatannya sedih sekali.” Tanyanya kepadaku.
“Iya nih…aku lagi sedih.” Kesahku.
“Kenapa?”
“Nilai pelajaranku anjlok.”
“Kamu sabar aja, berusahalah sekuat tenaga! Belajar yang rajin, jangan pernah putus asa !”
“Tapi, aku sudah belajar sekuat tenaga, tapi hasilnya tetap aja nihil.”
“Tapi kamu belajarnya sudah istiqamah belum ?”
“Ya…..belum sih”
“Nah, itu kelemahan kamu. Belajar harus terus-menerus, jangan hanya satu kali !” Tegurnya kepadaku.
Hatiku terasa sejuk. Perasaan dukaku terkikis sedikit demi sedikit. Begitu ikhlasnya dia memberikan motivasi kepadaku sehingga aku bisa merasakan keikhlasannya. Aku menulis namanya di hatiku sejak awal dan takkan pernah terhapus sebagai sahabat seimanku. Persahabatanku dengannya semakin erat seiring berjalannya hari. Dia selalu ada saatku sulit, aku pun selalu ada saat dia sulit. Begitu besar dia menaruh perhatian kepadaku. Rasanya aku belum bisa membalas kebaikannya.
Jalan persahabatanku dengannya terasa mulus-mulus saja, meluncur nyaris tanpa aral- melintang. Sekarang aku mulai tumbuh semakin dewasa. Umurku mulai bertambah . Masa-masa indahku dulu masih terbayang.
Sekarang aku sudah kelas tiga smp semester dua. Aku harus mempersiapkan energi yang super. Ujian nasional sudah menunggu di depanku, tinggal beberapa minggu aku akan menghadapinya. Aku dan sahabat baikku belajar sungguh-sungguh. Sahabatku selalu mengajari pelajaran yang belum aku pahami. Aku semakin semangat berapi-api. Setiap hari aku dan kawanku belajar bersama saling bertukar pikiran. Tak terasa ujian nasional tinggal beberapa menit lagi aku akan menghadapinya. Perasaanku tidak enak. Rasa pesimis tiba-tiba muncul di benakku.
“iz, perasaanku tidak enak. Jadi pesimis.” Gelisahku.
“Eh..eh..eh. Tidak boleh pesimis kan? Kamu harus positive thinking. Agar yang Maha Kuasa memberikan kemudahan.”
“Tapi ini beda dengan perasaan biasanya?”
“Kamukan sudah berusaha sekuat tenaga. Sekarang kamu tawakal saja kepada yang Maha Kuasa. Jangan lupa banyak berdoa !” tegasnya.
“Teet….teet…teet” bel berbunyi. Waktu ujian di mulai. Dengan perasaan ragu aku menjawab soal ujianku. Empat hari saat-saat tegang sudah aku lalui.Akhirnya hasil ujian pun diumumkan. Alhamdulillah hasil ujianku memuaskan. Aku dan sahabat-sahabatku semuanya lulus seratus persen.
“Ah, rasanya lega.” Bisikku dalam hati.
Selanjutnya tinggal menunggu pembagian rapot saja. Ujian nasional sudah, ujian akhir semester juga sudah. Akhirnya yang dinanti nanti pun tiba. Aku melihat nilai-nilaiku di rapot cukup memuaskan. Tiba-tiba perasaan senangku berhenti. Seseorang mendekatiku. Kupejamkan mataku, kutarik napas dalam-dalam……
“Aku.....” Dia berbisik pelan di dekat telingaku. “ Tidak bisa bersamamu lagi.”
“Hah ? Bercanda kali kamu ?” Aku terkaget.
“Serius, Han.” Dia mulai meneteskan air matanya.
“Aku tidak disini lagi.”
Jantungku seakan berhenti berdetak. Lalu aku bertanya lagi meyakinkan.
“Apa masalahnya?”
“Ini permasalahan keluarga. Ibuku meninggal. Aku harus tinggal di rumah menggantikan ibuku menjaga adik-adikku.”
Air mataku ikut menetes.
“Sekarang aku pamit meninggalkanmu. Semoga persahabatan kita tetap satu. Walau pun jauh dimata tapi tetap dekat di hati.”
Sambil berjalan meninggalkanku. Semakin jauh dan jauh. Aku melambai-lambaikan tanganku dengan tetesan air mataku. Senang- sulit, manis-pahit aku rasakan semuanya bersamanya. Kini dia telah pergi. Air mataku menjadi saksi persahabatanku dengannya. Selamat jalan sahabat. Rinduku tak pernah berakhir.